Rabu, 03 Maret 2021

MEKANISME REAKSI ELIMINASI E2

 

Mekanisme Reaksi Eliminasi E2


Hallo Sobat Chems

            Pada blog ini, kita akan membahas mengenai mekanisme reaksi eliminasi E2. Apa itu reaksi eliminasi E2? Reaksi eliminasi E2 adalah reaksi yang terjadi dengan satu tahap dimana hasil pada reaksi ini adalah terbentunya ikatan π atau ikatan rangkap dua (alkena). Pada reaksi eliminasi, dalam reaksi kimia antara substrat dan nukleofil, nukleofil bertindak sebagai akseptor proton yang menyebabkan terjadinya eliminasi. Nukleofil adalah sesuatu dengan pasangan elektron atau ikatan phi yang tidak terikat. nukleofil memiliki beberapa elektron cadangan yang dapat diberikan dengan murah hati kepada sesuatu yang kekurangan elektron. Basa lewis adalah sesuatu yang dapat menyumbangkan sepasang elektron, jadi semua nukleofil adalah basa Lewis.

‌            Seperti pada reaksi SN2, semua reaksi pada E2 terjadi sekaligus dan tidak ada karbokation yang perlu dikhawatirkan. Nukleofil bertindak sebagai basa, mengambil Proton Beta dan gugus lepas melakukan tugasnya lalu pergi. mekanisme ini bimolekuler, itulah sebabnya ada 2 dan laju reaksinya tergantung pada dua molekul: substrat dan basa.  Pada reaksi E2 perlu diketahui apa itu karbon β, Karbon β adalah karbon yang terikat pada karbon α dan karbon α adalah karbon dengan gugus lepas yang melekat padanya. Hidrogen yang terikat pada karbon beta dinamakan hidrogen β. Mekanisme reaksi E2 bisa kita tulis sebagai berikut:

1. Protonasi alkohol. Proses protonasi alkohol pada E2 berlangsung cepat. Protonasi pada gugus hidroksil membuat gugus ini menjadi gugus pergi yang baik.

2. Molekul basa menyerang hidrogen β bersamaan dengan terlepasnya gugus hidroksil terprotonasi (air) membentuk ikatan π karbon-karbon (alkena).

Untuk lebih jelasnya, mekanismenya dapat digambarkan sebagai berikut.

 

 

Permasalahan:

1. Dari blog diketahui bahwa hasil dari reaksi eliminasi E2 membentuk ikatan π. Adakah syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum terbentunya ikatan π ini?Jelaskan!

2. Pada mekanisme reaksi eliminasi E2, hidrogen β akan membentuk ikatan π. Jika pada suatu senyawa terdapat 2 hidrogen β, bagaimanakah cara kita menentukan yang mana yang akan membentuk ikatan π?

3. Perubahan alkohol menjadi alkena tentunya menyebabkan perubahan sifat pada senyawanya. Apa sajakah perubahan sifat tersebut?


 


Rabu, 24 Februari 2021

MEKANISME REAKSI SUBSTITUSI NUKLEOFILIK SN1

Mekanisme Reaksi Substitusi Nukleofilik SN1

 

Hallo Sobat Chems

Pada blog kali ini, kita akan membahas tentang mekanisme reaksi substitusi nukleofilik SN1. Apa sih reaksi substitusi nukleofilik SN1 itu? Reaksi substitusi nukleofilik SN1 adalah reaksi dimana gugus pergi terlepas dan membentuk karbokation (C+) kemudian nukleofil akan menyerang dan terbentuklah ikatan antara nukleofil dan substrat. Mekanisme pada reaksi ini bisa kita lihat dari gambar berikut:

Jika kita lihat dari reaksi diatas, setelah terjadinya reaksi SN1 tert-butil klorida berubah menjadi tert-butil alkohol. Perubahan ini tentunya akan mempengaruhi sifat fisika dan sifat kimianya serta perbedaan ini juga akan mengubah kegunaan dari senyawa tersebut. Salah satu sifat yang bisa kita analisis yaitu kepolarannya, tert-butil alkohol akan lebih polar dari tert-butil klorida. Hal ini karena tert-butil alkohol memiliki gugus –OH sehingga mudah bereaksi dengan senyawa lain serta dapat larut dalam air dan pelarut-pelarut murni lainnya. Perbedaan sifat ini tentunya akan mempengaruhi kegunaan dari senyawa tersebut, tert-butil klorida digunakan untuk membuat antioksidan tert-butylphenol dan pengharum neohexyl klorida. Sedangkan, tert-butil alkohol digunakan pada pembuatan zat flotasi, penghilang cat dan dapat pula berfungsi sebagai bahan pembersih dan pelarut untuk farmasetikal, lilin dan lak.

Apabila reaksi SN1 terjadi pada molekul kiral, maka dapat dihasilkan produk berupa campuran enansiomer. Contohnya bisa kita lihat pada reaksi hidrolisis (S)-3-bromo-3-metilheksana. Dengan mekanisme SN1 akan dihasilkan intermediet berupa karbokation. Karbokation ini mempunyai bentuk planar sehingga nukleofil H2O akan menyerang dari kedua sisi. Oleh karena itu, dihasilkan dua molekul yang merupakan pasangan enansiomer, yaitu (R)-3-metil-3-heksanol dan (S)-3-metil-3-heksanol.


 

Permasalahan:

1.)    Selain dari segi kepolarannya, analisislah perbedaan sifat fisika dan kimia lainnya pada reaksi tert-butil klorida menjadi tert-butil alkohol!

2.)    Seperti yang telah dijelaskan pada blog, reaksi SN1 yang terjadi pada molekul kiral dapat menghasilkan campuran enansiomer. Campuran enansiomer tentunya memiliki sifat yang berbeda dengan senyawa tunggalnya. Apa sajakah perbedaan-perbedaan sifat tersebut dan mengapa hal itu bisa terjadi?

3.)    Selain contoh yang telah diberikan pada blog ini, berikanlah contoh lain dari reaksi SN1 serta jelaskan perbedaan-perbedaan sifat yang terjadi antara substrat dan produknya!

Rabu, 17 Februari 2021

MEKANISME REAKSI SUBSTITUSI NUKLEOFILIK SN2

Mekanisme Reaksi Substitusi Nukleofilik SN2 

Hallo Sobat Chems

Pada blog kali ini, kita akan membahas tentang mekanisme reaksi substitusi nukleofilik SN2. Apa sih reaksi substitusi nukleofilik SN2 itu? Reaksi substitusi nukleofilik SN2 adalah reaksi yang terjadi ketika lepasnya gugus pergi bersamaan dengan proses terjadinya ikatan antara nukleofil dengan substrat. Mekanisme pada reaksi ini bisa kita uraikan kedalam 3 tahap yaitu sebagai berikut:

-       Nukleofil menyerang substrat yang masih mengikat gugus perginya.

-       Terjadinya keadaan transisi, dimana ikatan antara nukleofil dengan substrat sebagian terbentuk sedangkan ikatan antara substrat dengan gugus perginya sebagian putus.

-       Terbentuklah ikatan antara nukleofil dengan substrat. Reaksi ini berlangsung dengan satu tahapan reaksi tanpa terbentuknya zat antara (intermediet).

Contoh dari reaksi substitusi nukleofilik SN2 bisa kita lihat pada reaksi antara klorometana dengan ion hidroksida. Mekanismenya bisa kita lihat pada gambar berikut          

Apabila reaksi SN2 terjadi pada molekul kiral, maka produk yang dihasilkan memiliki stereokimia yang berlawanan dengan substratnya. Contohnya bisa kita lihat pada reaksi (R)-2-klorobutana dengan ion hidroksida berikut.

 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi reaktivitas terhadap reaksi SN2, diantaranya:

1.        Struktur substrat

Pada reaksi SN2, nukleofil akan menyerang substrat yang masih mengikat gugus pergi. Sehingga, jika substrat tersebut memiliki struktur yang besar atau atom C yang diserang mengikat gugus-gugus dengan efek ruang yang besar maka hal ini akan menyulitkan nukleofil untuk menyerang. Jika nukleofil kesulitan dalam menyerang, maka substrat ini tidak dapat bereaksi dengan mekanisme SN2. Dari uraian ini, bisa kita buat urutan reaktivitasnya adalah sebagai berikut:

Alkil halida tersier < sekunder < primer

2.        Konsentrasi nukleofil dan substrat

Laju reaksi pada reaksi SN2 dipengaruhi oleh konsentrasi nukleofil yang menyerang dan substratnya. Apabila konsentrasi pada nukleofilnya ditambah 2 kali maka laju reaksinya juga akan 2 kali lebih cepat. Begitu pula dengan penambahan substrat. Jika substratnya kita tambah, maka laju reaksinya juga akan lebih cepat.

3.        Efek pelarut

Reaksi SN2 akan berlangsung baik ketika digunakan pelarut yang bersifat polar aprotik. Hal ini karena molekul pelarut polar aprotik tidak dapat membentuk ikatan hidrogen sehingga nukleofil bebas tanpa tersolvasi dan akan lebih memudahkan reaksi SN2.

 

Permasalahan:

1.      Pada pembahasan diblog, konsentrasi nukleofil dan substrat dapat mempengaruhi laju reaksi. Tolong jelaskan mengapa hal ini bisa terjadi?

2.      Reaksi SN2 akan berlangsung baik ketika digunakan pelarut yang bersifat polar aprotik. Jika yang kita gunakan bukan merupakan pelarut yang bersifat polar aprotik, apakah yang akan terjadi pada reaksi SN2 tersebut?

3.      Dalam reaksi SN2, apakah kualitas atau jenis dari suatu nukleofil akan mempengaruhi reaksinya?Jelaskan!

 

Rabu, 10 Februari 2021

KAJIAN STEREOKIMIA SENYAWA KIRAL HASIL MODIFIKASI

 

Kajian Stereokimia Senyawa Kiral Hasil Modifikasi

Hallo sobat chems

Pada blog kali ini, saya akan membahas salah satu jurnal yang saya ambil dari google. Jurnal ini membahas mengenai sintesis dan sifat kopolimer kristal kiral metil eugenol dan eugenol. Untuk link jurnalnya adalah sebagai berikut:

https://bestjournal.untad.ac.id/index.php/kovalen/article/view/8725/6936

Adapun tujuan yang ingin dicapai peneliti pada penelitian ini adalah untuk mengetahui kelarutan kopolimer dan pengaruh kristal kiral terhadap berat molekul kopolimer yang dihasilkan.

Sebelumnya itu, kita bahas dulu tentang senyawa eugenol. Senyawa eugenol adalah salah satu senyawa yang bisa kita temukan pada tanaman cengkeh. Eugenol merupakan senyawa yang memiliki gugus  fungsional hidroksi fenolat dan alil. Gugus fungsional alil pada senyawa eugenol memungkinkan kita untuk melakukan polimerisasi sehingga dapat dihasilkan senyawa kiral. Untuk meningkatkan aktifitas biologis pada senyawa eugenol, kita bisa melakukannya dengan memodifikasi struktur eugenol dengan menambah gugus-gugus lain seperti hidroksil, nitro dan lain sebagainya. Reaksinya bisa dituliskan sebagai berikut.

Pada jurnal ini dikatakan bahwa ada molekul yang jika dilihat dari struktur molekulnya tidak bersifat kiral tetapi jika dilihat berdasarkan reaksi adisinya dihasilkan senyawa yang bersifat kiral. Selain itu, pada jurnal ini juga dikatakan bahwa senyawa kiral dapat diproduksi dari bahan dasar senyawa yang tidak kiral dengan metode absolut asimetris sintesis. Dalam jurnal ini, ditemukan pula jika sintesis pada senyawa tidak kiral menjadi kiral akan mempengaruhi sifat-sifatnya.

Berdasarkan jurnal yang saya bahas, didapat perbedaan-perbedaaan seperti:

- Kopolimer setelah pemurnian berubah warna dari yang awalnya merah keunguan menjadi kuning kecoklatan.

- Kopolimer yang dihasilkan dapat larut dalam etanol, kloroform, etil aseta, serta sedikit larut dalam n-heksan.

- Adanya kristal kiral menyebabkan berat molekul kopolimer mengalami peningkatan

Dari beberapa hal yang terdapat pada jurnal ini, saya dapat mengetahui bahwa senyawa tidak kiral dapat diubah menjadi senyawa kiral. Dan senyawa tidak kiral yang diubah menjadi senyawa kiral memiliki sifat yang berbeda dengan senyawa asalnya (akiral).

 

Permasalahan:

1.) Jika senyawa-senyawa akiral bisa kita ubah menjadi senyawa kiral. Apakah senyawa kiral bisa juga kita ubah menjadi senyawa akiral? Jika bisa, bagaimanakah caranya?

2.) Ketika kita menginginkan suatu produk sintesis hasil reaksi eugenol, apa saja yang harus kita lakukan dan harus direaksikan dengan apa sajakah senyawa eugenol tersebut? jelaskan beserta 1 produk hasilnya!

3.) Setelah membahas tentang modifikasi senyawa, sebenarnya apakah kegunaan dilakukannya modifikasi ini? apakah modifikasi dilakukan hanya untuk menambah jenis senyawa saja?

 

Selasa, 02 Februari 2021

STEREOKIMIA

 

Stereokimia

Hallo sobat chems

            Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang stereokimia. Sebelum membahas lebih lanjut, coba sobat chems perhatikan gambar dibawah ini.

 

 

Dari kedua gambar diatas, sobat chems bisa melihat sendiri kalau kedua molekul tersebut sekilas terlihat sama tetapi sebenarnya mereka berbeda. Molekul disebelah kiri adalah Levopropoypxhene yang merupakan obat batuk, sedangkan yang sebelah kanan adalah Dextropropoxyphene yang merupakan obat pereda nyeri. Lalu pertanyaannya adalah apa yang berbeda dari kedua struktur molekul tersebut? Blog ini akan membantu sobat chems mengetahui jawabannya serta memahami tentang molekul tiga dimensi dari segala sisi, kiri-kanan, atas-bawah, dan depan-belakang. Inilah yang dikenal dengan stereokimia. Stereokimia adalah studi mengenai bagaimana atom-atom dalam sebuah molekul ditata dalam ruangan tiga dimensi.

Berbicara tentang stereokimia, tidak terlepas dari sebutan isomer. What is isomer? Isomer adalah molekul dengan rumus molekul identik (sama): yaitu jumlah atom yang sama dari setiap molekul tetapi pengaturan atomnya berbeda dalam ruang. Isomer terbagi menjadi dua yaitu isomer struktural dan isomer ruang.

                 1. Isomer Struktural

·      Isomer struktural adalah isomer yang terjadi karena perbedaan susunan ikatan struktur antar atom maupun gugus fungsi dalam suatu molekul.

·      Isomer struktural dibagi menjadi tiga jenis yaitu isomer rangka, isomer posisi dan isomer gugus fungsi.

a.       Isomer Rangka

·         Seperti namanya, isomer rangka terjadi karena perbedaan kerangkanya. Umumnya isomer ini terjadi antar senyawa rantai lurus dengan senyawa rantai bercabang.

Contoh:

b.      Isomer Posisi

·         Berbeda dengan isomer rangka yang dilihat dari kerangkanya, isomer posisi dilihat dari perbedaan posisi gugus fungsinya.

·         Isomer posisi hanya terjadi pada senyawa hidrokarbon tak jenuh yaitu alkena dan alkuna. Hal inilah yang menjadi salah satu ciri dari isomer ini.

Contoh:

 

c.       Isomer Gugus Fungsi

·         Isomer gugus fungsi dibedakan berdasarkan gugus fungsinya. Isomer ini memiliki rumus molekul yang sama tetapi atom-atomnya terhubung dengan cara lain yang mengakibatkan gugus fungsinya berbeda.

Contoh:


2. Isomer Ruang (Stereoisomer)

·      Stereoisomer adalah isomer yang terjadi  ketika atom berada pada posisi yang sama tetapi memiliki pengaturan keruangan yang berbeda.

·      Stereoisomer dibagi menjadi dua yaitu enansiomer (optik) dan diastereoisomer

a.       Isomer Optik

·           Isomer optis adalah isomer yang terjadi pada senyawa karbon yang memiliki C asimetris atau atom C kiral: yaitu atom C yang mengikat empat atom/gugus atom yang berbeda.

·           Jumlah konfigurasi isomer optis dinyatakan: 2n (n = jumlah atom kiral).

·           Dalam isomer optik, semua benda atau molekul yang tidak dapat berimpit dengan bayangan cerminnya disebut kiral ( berasal dari bahasa yunani yang artinya tangan). Sedangkan semua benda yang dapat berimpit dengan bayangan cerminnya disebut akiral (tidak kiral) 

b.      Diastereoisomer

Ø  Diastereoisomer terjadi jika molekulnya bukan bayangan cermin satu sama lain.

Ø  Contoh : Isomer Geometri (cis/trans)

·           Isomer geometri adalah isomer yang muncul saat kita melakukan rotasi-rotasi tertentu dalam molekul. Isomer ini disebabkan oleh perbedaan letak atom (gugus atom) yang sama dalam ruang.

·           Syarat :

-          Rantai induknya memiliki atom C yang berikatan rangkap (-C=C-)

-          Pada atom C berikatan rangkap mengikat 2 atom/gugus atom yang berbeda

·           Cis memiliki substituen disisi yang sama, sedangkan trans disisi berlawanan.

·           Pada alkena, jika pemberian nama berdasarkan sistem cis-trans tidak mungkin, maka akan digunakan sistem (E) – (Z), E (Entegegen, berasal dari kata jerman yang berarti “berlawanan”); Z (Zusamen, berasal dari kata jerman yang berarti “sepihak”). Pemberian nama dengan sistem ini didasarkan pada  urutan prioritas menurut Cohn, Ingold, dan Prelog (CIP). Urutannya adalah sebagai berikut: I > Br > Cl > S > F > O > N > C > H

·           Aturan deret pada sistem (E) dan (Z) untuk menentukan urutan prioritas:

1.)    Jika atom berbeda-beda, maka urutannya bisa kita tentukan berdasarkan nomor atom. Atom dengan nomor atom tinggi memperoleh prioritas.

2.)    Jika atom-atomnya adalah isotop satu sama lain, maka isotop yang memiliki nomor massa tinggi memperoleh prioritas. Urutannya: Tritium > Deuterium > protium

3.)    Jika kedua atom identik (sama), maka nomor atom dari atom berikutnya yang kita gunakan untuk menentukan urutan prioritas.


4.)    Jika ada atom yang diikat pada ikatan ganda atau ikatan rangkap tiga, maka ikatan tersebut setara dengan ikatan tunggal.

 


Dengan menggunakan aturan ini, kita dapat menempatkan urutan prioritas sebagai berikut:




Permasalahan:

1.)    Berikut saya berikan beberapa benda yang sering kita temui dikehidupan sehari-hari.

-          Obeng

-          Kaos kaki tabung

-          Sepatu kiri

-          Garpu

-          Pensil bertuliskan “2B”

Dari benda-benda diatas, manakah yang bersifat kiral atau akiral dan mengapa demikian?

2.)    Pada contoh stoikiometri diawal, saya memberikan contoh bentuk molekul dari Levopropoxypene dan Dextropropoxyphene yang jika dilihat sekilas terlihat sama namun berbeda. Apa perbedaan dari keduanya dan mengapa namanya Levo dan yang satunya lagi dextro?

3.)    Jelaskan apakah masing-masing senyawa dibawah ini (E) atau (Z) dan berikan nama pada masing-masing senyawa tersebut!



 

 

 

 

 

 

KLASIFIKASI REAKSI-REAKSI KIMIA ORGANIK

 

Klasifikasi Reaksi-reaksi Kimia Organik

Hallo sobat chems

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang klasifikasi reaksi-reaksi organik dasar. Sebelum membahas lebih lanjut, sobat chems tau gak sih apa itu reaksi organik? Reaksi organik adalah reaksi yang didalamnya melibatkan senyawa organik. Dalam suatu reaksi termasuk reaksi organik ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu apa yang terjadi pada gugus fungsi dan sifat pereaksi yang menyerang. Ada tiga jenis pereaksi dalam reaksi organik yaitu:

 1.)  Pereaksi elektrofil: pereaksi bermuatan positif, asam Lewis, karbokation (C+) dan oksidator (menerima elektron).

2.) Pereaksi nukleofil: pereaksi yang bermuatan negatif, basa Lewis dan reduktor ( memberi elektron).

3.) Pereaksi radikal bebas: pereaksi yang mempunyai satu elektron tak berpasangan.

Nah, pada blog ini kita akan membahas tentang reaksi-reaksi organik dasar meliputi reaksi adisi, reaksi eliminasi, reaksi substitusi, reaksi reduksi, reaksi oksidasi, reaksi polimerisasi dan reaksi penataan ulang.

1. Reaksi Adisi

·         Reaksi adisi adalah reaksi kimia dimana atom atau sekelompok atom ditambahkan ke ikatan rangkap tanpa eliminasi atom atau molekul lain, reaksi ini menyebabkan pemutusan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal.

·         Berdasarkan jenis pereaksinya, reaksi adisi dibagi menjadi:

a.       Reaksi adisi nukleofil adalah reaksi yang terjadi ketika gugus yang menyerang pertama kali ke suatu ikatan rangkap merupakan pereaksi nukleofil.

b.      Reaksi adisi elektrofil adalah reaksi yang terjadi ketika gugus yang menyerang pertama kali ke suatu ikatan rangkap merupakan pereaksi elektrofil.

c.       Reaksi adisi radikal bebas adalah reaksi yang terjadi ketika gugus yang menyerang pertama kali ke suatu ikatan rangkap merupakan pereaksi radikal bebas.


      2. Reaksi Eliminasi

·         Reaksi eliminasi adalah reaksi kimia dimana atom atau sekelompok atom mengalami perpindahan dari dua molekul yang berdekatan dalam substrat untuk membentuk ikatan rangkap.

·         Reaksi eliminasi dapat dianggap sebagai kebalikan dari reaksi adisi.

Contoh:


     3. Reaksi Substitusi

·         Reaksi substitusi adalah reaksi kimia dimana atom atau sekelompok atom yang terikat langsung ke atom karbon dalam molekul substrat digantikan oleh atom atau sekelompok atom lain.

·         Seperti reaksi adisi, reaksi ini juga dibedakan berdasarkan jenis pereaksinya, yaitu antara lain:

a.       Reaksi substitusi nukleofil adalah reaksi yang terjadi ketika gugus yang menggantikan merupakan pereaksi nukleofil.

b.      Reaksi substitusi elektrofil adalah reaksi yang terjadi ketika gugus yang menggantikan merupakan pereaksi elektrofil.

c.       Reaksi substitusi radikal bebas adalah reaksi yang terjadi ketika gugus yang menggantikan adalah pereaksi radikal bebas.

     

     4. Reaksi Reduksi

·         Reaksi reduksi adalah reaksi kimia yang ditandai dengan adanya pelepasan oksigen pada salah satu unsurnya yang mengakibatkan reaksi ini mengalami peningkatan bilangan oksidasi serta penambahan elektron.

Contoh:

    

     5. Reaksi Oksidasi

·         Reaksi oksidasi adalah reaksi kimia yang ditandai dengan adanya pengikatan oksigen pada salah satu unsurnya yang mengakibatkan reaksi ini mengalami peningkatan bilangan oksidasi dan penurunan elektron.

·         Reaksi oksidasi pada senyawa hidrokarbon sering juga disebut sebagai reaksi pembakaran. Reaksi pembakaran dapat berlangsung secara sempurna maupun tidak sempurna.

Reaksi pembakaran sempurna

v  Reaksi pembakaran sempurna menghasilkan produk berupa gas karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O).

Reaksi pembakaran tidak sempurna

v  Reaksi pembakaran tidak sempurna menghasilkan produk berupa padatan karbon atau gas karbon monoksida (CO) dan uap air (H2O). Hal ini terjadi akibat kurangnya oksigen untuk membakar sepenuhnya senyawa hidrokarbon tersebut.


     6. Reaksi Polimerisasi

·         Reaksi polimerisasi adalah reaksi dimana terjadi perubahan senyawa dari monomer menjadi polimer karena cahaya, radikal bebas, kation ataupun anion.

Contoh:


     7. Reaksi Penataan Ulang

·         Reaksi penataan ulang adalah reaksi dimana terjjadi penataan kembali pada suatu molekul untuk mendapatkan struktur molekul baru yang berbeda dengan struktur molekul semula.

Contoh:


 

Permasalahan:

1.)    Reaksi oksidasi disebut juga sebagai reaksi pembakaran, yang mana terjadi pengikatan oksigen pada salah satu unsurnya. Apakah suatu reaksi bisa dianggap sebagai reaksi pembakaran apabila unsur yang diikat bukan oksigen? Jika bisa, sebutkan apa saja unsur-unsur yang dapat mengoksidasi bahan kimia selain oksigen dan mengapa bisa dianggap sebagai reaksi pembakaran? Jika tidak, jelaskan mengapa hanya ketika mengikat oksigen suatu reaksi dapat dikatakan sebagai reaksi oksidasi?

2.)    Reaksi  penataan ulang digunakan untuk membentuk struktur karbokation yang lebih stabil. Tetapi, tidak semua karbokation dapat menghasilkan karbokation yang lebih stabil dengan penataan ulang. Dari kedua struktur karbokation berikut, manakah yang akan mengalami penataan ulang?

3.)    Apakah suatu alkil tunggal dapat menjalani lebih dari satu reaksi sekaligus? Jelaskan!

 

 

 

 

DERIVAT ASAM KARBOKSILAT

  DERIVAT ASAM KARBOKSILAT Hallo Sobat Chems, Pada blog ini, kita akan membahas mengenai “Derivat Asam Karboksilat”. Apa itu derivat asa...